Revolusi PSSI Sampai Panca Prestasi, Ini Program Para Calon Ketum PSSI

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.





Jakarta – Sejumlah calon Ketum PSSI kembali menyampaikan visi misinya jika kelak menjadi pemimpin federasi sepakbola Indonesia itu. Mereka berkampanye dengan menawarkan program-progam yang telah dipersiapkan.

Dalam debat calon ketum PSSI yang digelar di Jakarta, Selasa (4/10) ada enam calon yang hadir yaitu, Moeldoko, Djohar Arifin Husin, Tonny Aprilani, Eddy Rumpoko, Sarman El Hakim, dan Kurniawan Dwi Yulianto.

Sementara tiga kandidat yang absen adalah Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi, Erwin Aksa dan Bernhard Limbong. Ketiganya tak hadir dengan alasan berbeda.

Eddy Rumpoko menjadi kandidat kedua, setelah Djohar Arifin, yang diminta memaparkan visi dan misinya. Dalam pemaparannya, dia ingin membangun sepakbola secara keseluruhan di Indonesia.

“Saya sendiri dari kampung, tapi saya mempunyai keinginan membangun sepakbola rakyat dan masyarakat harus percaya dengan PSSI. Saya akan melibatkan seluruh stakeholder dan bagimana sepakbola sehat dan disiplin dari semua ranah dari pelatih hingga suporter,” kata Eddy.

Berbeda dengan Eddy, Moeldoko memiliki program ‘Panca Prestasi’ yang terdiri dari membangun kompetisi yang terstruktur, menyiapkan SDM, pembenahan wasit, logistik yang mandiri, dan infrastruktur yang memadai.

“Kompetisi di Indonesia belum menyentuh usia dini. Ini harus dibenahi. Selain itu, kompetisi juga harus bisa membawa Indonesia sukses berprestasi, paling tidak di Asia,” ujar Moeldoko.

“Menyiapkan SDM sebaik-baiknya. Pertama-tama tentu pemain dulu dan usia dini dijadikan backbone untuk membangun sumber daya manusia yang baik untuk sepakbola Indonesia,” lanjut Moeldoko.

Sementara itu, Tony Aprilani mengatakan dia ingin meneruskan program-program sepakbola yang sudah ada dan diperbaiki menjadi lebih baik.

“Seperti saat PSSI dipimpin oleh Agum Gumelar. Indonesia pernah tembus ranking di bawah 100. Ini tak pernah terjadi setelah kepimpinan Agum. Jadi ada pentingnya meneruskan program yang sudah baik, tidak serta merta membongkar saja,” ujar Tony.

Yang menarik, dalam acara debat tersebut adalah dari visi dan misi yang disampaikan oleh Sarman El Hakim. Pria 50 tahun itu ingin berencana mendatangi kantor FIFA agar tidak ada lagi konflik di sepakbola Indonesia.

“Saya mau seperti Chile, yang bangkit karena sepakbola, mereka menjadikan juara Coppa America itu sebagai goal mereka. Visi misi saya adalah sepakbola untuk merdeka. Alatnya adalah revolusi PSSI. Menurut saya revolusi PSSI adalah merevolusi sistem keuangan, keorganisasian, pelatih, wasit,” kata Sarman.

“Kemudian saya akan berangkat ke markas FIFA, saya tidak mau lagi ada konflik antar anak bangsa. Karena masalah tersebut adalah karena masalah perencanaan. Masalah hari ini adalah masalah perencanaan, karena anggota kita itu banyak,” tambahnya.

(ads/din)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a Reply

Your email address will not be published.